Kredit Pemilikan Rumah Syariah - Penjelasan Singkat Tentang KPR

Jika Anda saat ini sedang mencari informasi tentang kredit pemilikan rumah syariah tentu akan menemukan ada beberapa jenis kredit rumah murah. Seperti kita ketahui bahwa rumah merupakan kebutuhan primer untuk setiap manusia, namun di saat seperti ini untuk memiliki sebuah rumah bukanlah hal mudah buat golongan masyarakat dengan ekonomi kecil atau penghasilan kecil.

Inginnya punya rumah dengan harga murah, tapi karena persyaratan yang rumit plus adanya uang muka yang harus disediakan (dimana jumlahnya terkadang sangat mahal/tinggi), maka semakin kecil kemungkinan orang-orang berpenghasilan kecil atau bukan seorang karyawan dapat memiliki sebuah rumah tinggal.

Kredit Pemilikan Rumah Syariah – Penjelasan Sederhana Seputar KPR

Baca juga: Info Kredit Rumah Syariah Sidoarjo Tipe 36 Cicilan 2,3 Juta per bulan selama 5 tahun

Terlepas dari permasalahan kepemilikan rumah yang rumit di atas, maka tak sedikit pula dari kita yang belum paham benar tentang kredit rumah baik yang dikelola oleh bank resmi ataupun perseorangan yang akhir-akhir ini sering dijumpai dengan sebutan kredit rumah syariah.

Pengertian KPR Syariah, KPR Bank Sistem Syariah dan KPR Bank Konvensional

1. Pihak Yang Melakukan Transaksi

KPR Sistem Syariah: 2 Pihak yaitu antara calon pembeli rumah dan developer.
Bank Sistem Syariah: 3 Pihak yaitu antara calon pembeli rumah, developer dan bank.
Bank Sistem Konvensional: 3 Pihak yaitu antara calon pembeli rumah, developer dan bank.

Maka harus calon calon pembeli rumah cermati apakah KPR bank baik Sistem Syariah atau Sistem Konvensional terjadi transaksi jual beli atau hanya pendanaan dari bank. Bila saja memang jual beli maka halal, namun bila hanya pendanaan bank maka haram.

2. Barang Jaminan

KPR Sistem Syariah: Rumah yg di perjualbelikan/ kredit tak untuk dijadikan jaminan.
Bank Sistem Syariah: Rumah yg diperjualbelikan/ kredit dijadikan jaminan.
Bank Sistem Konvensional: Rumah yg diperjualbelikan/ kredit dijadikan jaminan.

Ada ikhtilaf ulama mengenai apakah barang yg diperjualbelikan boleh dijadikan jaminan atau dilarang. Dalam hal ini, KPR Sistem Syariah mengambil pendapat bahwa rumah yg sedang diperjualbelikan/ kredit dilarang dijadikan jaminan.

3. Sistem Denda

KPR Sistem Syariah: Tak ada denda selama masa kredit.
Bank Sistem Syariah: Ada denda selama masa kredit.
Bank Sistem Konvensional: Ada denda selama masa kredit.

Dalam kredit sistem Syariah tak untuk boleh ada denda Bila saja ada keterlambatan cicilan kredit karena itu termasuk riba. Dalam jual beli kredit maka sejatinya adalah hutang piutang. Jadi Bila saja harga sudah di akadkan maka tak untuk boleh ada kelebihan sedikitpun baik dinamakan denda, administrasi atau bahkan infaq sekalipun. Karena ini termasuk mengambil manfaat dari hutang piutang yaitu riba.

4. Sistem Sita

KPR Sistem Syariah: Tak ada sita meski telat bayar kredit.
Kredit Bank Sistem Syariah: Tak ada sita walau telat bayar kredit.
Kredit Bank Sistem Konvensional: Ada sita jika telat bayar kredit .

Dalam kredit Sistem Syariah tak untuk boleh melakukan sita bila saja calon pembeli rumah tak sanggup mencicil lagi. Karena rumah tersebut sudah sepenuhnya milik calon pembeli walaupun masih kredit. Solusinya adalah calon pembeli rumah kredit ditawarkan untuk menjual rumahnya baik lewat calon pembeli atau dengan bantuan developer (pengembang).

Bila saja andai kata sisa kredit masih 200 jt rupiah kemudian rumah terjual 450 jt rupiah. Maka calon pembeli membayar sisa kredit yg 200 jt rupiah dan sisanya senilai 250 jt rupiah adalah hak calon pembeli.

5. Sistem Penalti

KPR Sistem Syariah: Tak ada penalti.
Bank Sistem Syariah: Tak ada penalti.
Bank Sistem Konvensional: Ada penalti.

Bila saja calon pembeli mempercepat pelunasan andai kata dari tenor waktu 10 tahun kemudian di tahun 8 sudah lunas maka tak untuk ada penalty dalam KPR Sistem Syariah karena itu adalah riba. Bahkan ada sistem atau potongan keringanan kredit yg nilainya dikeluarkan saat pelunasan terjadi.

6. Sistem Asuransi

KPR Sistem Syariah: Tak ada asuransi.
Bank Sistem Syariah: Ada asuransi.
Bank Sistem Konvensional: Ada asuransi.

Dalam kredit KPR Sistem Syariah tak memakai asuransi apapun karena asuransi adalah haram yg didalamnya ada riba, ghoror, maysir dan lain-lain.

7. Sistem BI Checking atau Bankable

KPR Sistem Syariah: Tak ada BI Checking/ Bankable.
Bank Sistem Syariah: Ada BI Checking/ Bankable.
Bank Sistem Konvensional: Ada BI Checking/ Bankable.

Dalam KPR Sistem Syariah tak ada BI Checking/ Bankable sehingga sangat memberikan kemudahan bagi calon calon pembeli yg kesulitan bila saja melalui sistem BI Checking/Bankable, spt penjelasan berikut:

1. Karyawan/pekerja Kontrak
Syarat lolos BI Checking/Bankable secara umum adalah karyawan/pekerja tetap. Jadi bagi karyawan/pekerja kontrak akan kesulitan bila saja ingin kredit rumah syariah lewat bank.

2. Pengusaha/pedagang Kecil
Syarat lainnya yg dapat meloloskan calon calon pembeli rumah kreditan dari BI Checking/ Bankable adalah pengusaha yg memiliki izin usaha dan laporan keuangan. Jadi, bagi pedagang kecil spt contohnya tukang bakso, siomay, gorengan dan lainnya akan sulit jika saja ingin mengambil kredit rumah syariah melalui bank.

3. Usia Produktif
Calon calon pembeli yg sudah usia lanjut diatas 50 tahun maka tak akan dapat mengajukan kredit rumah lewat bank karena ada batasan usia produktif bila saja mengambil kredit lewat bank.

Inilah penjelasan tentang perbedaan kredit pemilikan rumah syariah melalui KPR Bank baik Bank Sistem Syariah ataupun Sistem Konvensional. Semoga bermanfaat.